Macam-macam Penyakit Kelamin Yang Menyerang Wanita

Sebelumnya mungkin kita lebih mengenal tentang penyakit kelamin yang menyerang kaum pria. Namun belakangan, dan cukup sering ditemukan jika penyakit kelamin juga menyerang pada kaum wanita bahkan penyakit kelamin pada wanita lebih sering tidak disadari keberadaannya, dan akhirnya membawa dampak pada kesuburan wanita.

Menurut website Alodokter, penyakit kelamin yang menyerang pada wanita lebih sering bersifat asimtomatis, artinya kehadirannya tanpa kemunculan gejala. Namun, dapat diketahui perkembangannya dengan kemunculan keputihan tidak normal, benjolan, memiliki luka yang disertai gatal serta adanya rasa nyeri di area organ intim. Pada kasus yang lebih sering, penyakit kelamin pada wanita terjadi akibat infeksi menular seksual, dermatitis yang disebabkan oleh alergi atau iritasi.

Macam-macam Penyakit Kelamin Yang Menyerang Wanita

Penyakit kelamin yang menyerang wanita juga tidak hanya satu jenis, berikut ini adalah Macam-macam Penyakit Kelamin Yang Menyerang Wanita, diantaranya :

1. Herpes.

Wanita terbilang lebih rentan untuk terjangkit penyakit menular seksual (PMS) jenis Herpes. Awalnya mungkin penderita tidak merasakan tanda-tanda apapun jika dirinya terkena infeksi Herpes. Jika seseorang sudah terinfeksi virus ini, maka virus akan menetap hidup di dalam tubuh, meskipun mungkin virus tersebut dalam keadaan tidak aktif.

Pada wanita sendiri, virus Herpes dapat menular dan masuk melalui mulut, labia, vagina, dan jaringan kulit yang terluka. Penularan penyakit ini juga dapat terjadi jika adanya kontak kulit secara langsung, termasuk aktivitas seksual dengan penderita herpes.

Tanda-tanda wanita terinfeksi virus Herpes diantaranya : mengalami gejala seperti flu dan demam diikuti dengan nyeri pada otot dan sendi, permukaan kulit pada area yang terinfeksi akan terasa gatal kemudian menjadi panas seperti terbakar disertai nyeri, mengalami keputihan abnormal, dapat disertai sakit kepala serta buang air kecil terasa menyakitkan. Kemudian diikuti munculnya lenting kemerahan berisi cairan, atau luka di sekitar vagina, bokong, selangkangan dan/atau pada area sekitar bibir dan mulut yang tumbuh berkelompok.

2. Keputihan abnormal.

Cairan keputihan normal bermanfaat untuk melembapkan, membersihkan, serta mencegah terjadinya infeksi pada vagina. Normalnya, cairan keputihan akan berwarna jernih atau putih serta tekstur sedikit encer, agak tebal, dan lengket.

Akan tetapi, jika cairan keputihan kemudian berwarna kehijauan, keabu-abuan, atau kuning (seperti nanah), bahkan bercampur bercak darah, bisa saja ini adalah pertanda adanya masalah kesehatan pada vagina. Keputihan yang abnormal ini biasanya juga disertai dengan bau yang tidak sedap, bengkak atau kemerahan, gatal hingga rasa terbakar, nyeri sekitar perut bawah, maupun nyeri saat berhubungan seksual.

Saat mengalami keputihan yang tidak normal, gejala lain yang bisa mengikuti diantaranya demam, kelelahan, nyeri perut, sering buang air kecil dan penurunan berat badan tanpa sebab segeralah berkonsultasi kepada dokter.

Penyebab dari keputihan abnormal ini beragam, bahkan seringkali merupakan pertanda terjadinya peradangan pada vagina (vaginitis) maupun mulut serviks (servisitis), yang bisa dipengaruhi oleh infeksi bakteri, protozoa, dan jamur. Dapat berkaitan dengan kondisi yang dikenal sebagai vaginosis bakterialis, kandidiasis vaginalis, maupun infeksi menular seksual seperti klamidia, gonore, dan trikomoniasis.

3. Kutil Kelamin.

Sesuai dengan namanya, penyakit yang menular secara seksual ini menimbulkan mengganggu gejala berupa tumbuhnya kutil pada area kelamin. Penyebab penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus human papilloma (HPV) yang menular saat terjadi kontak langsung, terutama secara seksual.

Jangan lewatkan, Obat Kutil Kelamin Terbaik Baca Disini!

Kutil kelamin biasanya berukuran sangat kecil dan datar, sehingga tidak disadari keberadaannya. Namun kemudian berkembang, semakin menonjol di atas permukaan kulit, dan membesar. Pada wanita, kutil dapat tumbuh bukan hanya pada permukaan organ kelamin atau anus, namun juga dapat menyebar hingga ke bagian dalamnya, dan kondisi serius ini lebih membutuhkan penanganan khusus dari dokter untuk bisa mengobati gejalanya. Walaupun begitu HPV penyebab kutil kelamin dapat menetap dalam tubuh seumur hidup, sekalipun sudah tidak lagi menimbulkan gejala dan sewaktu-waktu dapat berulang, terutama saat daya tahan tubuh menurun.

4. Salpingitis.

Salpingitis adalah penyakit yang ditandai dengan adanya peradangan di saluran tuba. Hampir dari sebagian besar kasus Salpingitis disebabkan oleh infeksi bakteri, termasuk penyakit menular seksual Gonore dan Klamidia. Peradangan yang terjadi menyebabkan kerusakan permanen pada saluran tuba, hingga dapat menyebabkan infertilitas pada wanita. Pada kasus Salpingitis ringan, gejala yang ditimbulkan mungkin tidak dapat dirasakan sendiri oleh penderita. Namun, tanda-tanda yang harus dicurigai biasanya ditandai dengan keputihan tidak normal dan bau, munculnya bercak, hingga sakit pada perut dan punggung bawah, mengalami dismenorea atau rasa sakit saat menstruasi, sakit saat masa subur, sakit saat berhubungan seksual, demam, sering buang air kecil, serta mengalami mual dan muntah.

5. Kanker Serviks.

Hampir semua kasus penyakit Kanker Serviks disebabkan oleh HPV. Gejalanya yang berkaitan dengan siklus menstruasi, infeksi jamur, dan infeksi saluran kemih kebanyakan tidak disadari sebagai gejala Kanker Serviks hingga akhirnya berada pada stadium lanjut. Adapun gejala yang terjadi pada organ kelamin wanita yang berhubungan dengan Kanker Serviks diantaranya adanya gangguan menstruasi seperti menstruasi dengan jumlah perdarahan yang berlebih, perdarahan yang tidak normal diluar siklus menstruasi, nyeri maupun perdarahan saat berhubungan seksual, keputihan yang tidak normal disertai bau, juga sering buang air kecil dan terasa sakit.

Cara pencegahan yang tepat untuk terhindar dari beragam jenis penyakit kelamin diatas, adalah dengan memastikan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan vagina dengan pola hidup sehat seperti berolahraga rutin, mengkonsumsi makanan sehat, menghindari penggunaan sabun wangi dan antiseptik berlebihan saat mencuci vagina, serta melakukan seks yang aman serta setia terhadap pasangan.

Baca juga :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *